Archive for the ‘Untuk yang ku kasihi’ Category

ETIKA JIKA TERPAKSA HARUS BERTENGKAR / SUAMI VS ISTRI

ETIKA JIKA TERPAKSA HARUS BERTENGKAR/
SUAMI VS ISTRI

Bismillah walhamdulillah walaa haola walaa Quwwata Illaa billah, Shahabat yang berbahagia, kita bersyukur kepada Alloh bahwa hingga hari ini Alloh masih menyisakan umur buat kita. Berbicara soal mati, sebenarnya setiap kita telah dijatuhi hukuman mati (S.21:35), hanya jadwal eksekusi yang berbeda beda, ada yang minggu lalu, kemarin, tadi pagi, dan saya ? Anda ? Entah kapan, yang jelas waktu yang tersisa, harus kita maksimalkan untuk berbuat baik. Diantara kebaikan itu adalah: membangun sinergi yang baik antar dua kekasih yang diikat erat janji suci, suami dengan isteri.

Bertengkar adalah phenomena yang sulit dihindari dalam kehidupan berumah tangga, kalau ada seseorang berkata : “Saya tidak pernah bertengkar dengan isteri saya !” Kemungkinannya dua, boleh jadi dia belum beristeri, atau ia tengah berdusta.

Bertengkar itu sebenarnya sebuah keadaan diskusi, hanya saja dihantarkan dalam muatan emosi tingkat tinggi. Kalau tahu etikanya, dalam bertengkarpun kita bisa mereguk hikmah, betapa tidak, justru dalam pertengkaran, setiap kata yang terucap mengandung muatan perasaan yang sangat dalam, yang mencuat dengan desakan energi yang tinggi, pesan pesannya terasa kental, lebih mudah dicerna ketimbang basa basi tanpa emosi.

Sebuah Memorandum of Understanding, bahwa kalau pun harus bertengkar maka :

1. Kalau bertengkar tidak boleh berjama’ah
Cukup seorang saja yang marah-marah, yang terlambat mengirim sinyal nada tinggi harus menunggu sampai yang satu reda. Untuk urusan marah pantang berjama’ah, seorangpun sudah cukup membuat rumah jadi meriah. Ketika ia sedang marah dan saya akan menyela, segera ia berkata “STOP” ini giliran saya !
Saya harus diam sambil istighfar. Sambil menahan senyum saya berkata dalam hati : “Kamu makin cantik kalau marah, makin energik …” Dan dengan diam itupun saya merasa telah beramal sholeh, telah menjadi jalan bagi tersalurkannya luapan perasaan hati yang dikasihi… “duh kekasih .. bicaralah terus, kalau dengan itu hatimu menjadi lega, maka dipadang kelegaan perasaanmu itu aku menunggumu ….”

Demikian juga kalau pas kena giliran saya “yang olah raga otot muka”, saya menganggap bahwa distorsi hati, nanah dari jiwa yang tersinggung adalah sampah, ia harus segera dibuang agar tak menebar kuman, dan saya tidak berani marah sama siapa siapa kecuali pada isteri saya, maka kini giliran dia yang harus bersedia jadi keranjang sampah. pokoknya khusus untuk marah, memang tidak harus berjama’ah, sebab ada sesuatu yang lebih baik untuk dilakukan secara berjama’ah selain marah.

2. Marahlah untuk persoalan itu saja, jangan ungkit masalah yang telah terlipat dimasa lalu.
Siapapun kalau diungkit kesalahan masa lalunya, pasti akan terpojok, sebab masa silam adalah bagian dari sejarah dirinya yang tidak bisa ia ubah. Siapapun tidak akan suka diungkit ungkit masa lalunya. Sebab harapan terbentang mulai hari ini hingga ke depan. Dalam bertengkar pun kita perlu menjaga harapan, bukan menghancurkannya. Sebab pertengkaran di antara orang yang masih mempunyai harapan, hanyalah sebuah foreplay, sedang pertengkaran dua hati yang pa tah asa, menghancurkan peradaban cinta yang telah sedemikian mahal dibangunnya. (sampai hari ini, biaya untuk hidup berumah tangga masih harus terus dicicil, sayang kan kalau di delete begitu saja …)

Kalau saya terlambat pulang dan ia marah, maka kemarahan atas keterlambatan itu sekeras apapun kecamannya, adalah “hanya ungkapan rindu yang bergelora”. Tapi bila itu dikaitkan dengan seluruh keterlambatan saya, minggu lalu, awal bulan kemarin dan dua bulan lalu, maka itu membuat saya terpuruk jatuh. Bila teh yang disajikannya tidak manis (anggap saja saya bukan termasuk penimbun gula), Sepedas apapun saya marah, maka itu adalah “hanya harapan ingin disayangi lebih tinggi”. Tapi kalau itu dihubungkan dengan kesalahannya kemarin dan tiga hari lewat, plus tuduhan “Sudah tidak suka lagi ya dengan saya”, maka saya telah menjepitnya dengan hari yang telah lalu, saya menguburnya di masa lalu, ups saya telah membunuhnya, membunuh cintanya.
Padahal kalau cintanya mati, saya juga yang susah … OK, marahlah tapi untuk kesalahan saat ini, saya tidak sedang berada di minggu lalu, dan ia pun milikku hari ini dan dimasa masa yang akan datang…..

3. Kalau Marah jangan bawa-bawa keluarga !
Saya dengan isteri saya umpamanya sudah terikat masa 18 tahun, tapi saya dengan ibu,bapak dan saudara saya hampir dua kali lipat lebih panjang dari itu, demikian juga ia dan ibu bapaknya kakak atau adiknya. Dan konsep Qur’an, seseorang itu tidak menanggung kesalahan fihak lain (S.53:38-40). Saya tidak akan terpancing marah bila cuma saya yang dimarahi, tapi kalau ibu saya diajak serta, jangan coba-coba. Begitupun dia, semenjak saya menikahinya, saya telah belajar mengabaikan siapapun di dunia ini selain dia, karenanya mengapa harus bawa-bawa orang lain kekancah “awal cinta yang panas ini”. Kata orang tua : “Teman seribu masih kurang, musuh satu terlalu banyak”. Memarahi orang yang mencintai saya, lebih mudah mendapatkan ma’afnya dari pada ngambek pada yang tidak mengenal hati dan diri saya..”
Dunia sudah diambang pertempuran, tidak usah ditambah tambah dengan memusuhi mertua ataupun saudara! Urusan tambah runyam!!!

4. Kalau marah jangan di depan anak-anak !
Anak kita adalah buah cinta kasih, bukan buah kemarahan dan kebencian. Dia tidak lahir lewat pertengkaran kita, karena itu, mengapa mereka harus menonton komedi liar rumah kita. Anak yang melihat orang tua nya bertengkar, bingung harus memihak siapa. Membela ayah, bagaimana ibunya. Membela ibu, tapi itukan bapak saya … ketika anak mendengar ayah ibunya bertengkar :

Ibu : “Saya ini cape, saya bersihkan rumah, saya masak, saya ngurus anak dan kamu datang main suruh begitu, emang saya ini babu ?!!!”
Bapak : “Saya juga cape, kerja seharian, kamu minta ini dan itu dan aku harus mencari lebih banyak untuk itu, saya datang hormatmu tak ada, emang saya ini kuda ????!!!!

Anak :”…… Yaaa …ibu saya babu, bapak saya kuda …. terus saya ini apa ?”

Kita harus berani berkata : “Hentikan pertengkaran !” ketika anak datang, lihat mata mereka, dalam binar tatap matanya ada rindu dan kebersamaan. Pada tawanya ada jejak kerjasama kita yang romantis, haruskah ia mendengar kata basi hati kita ???

5. Kalau marah jangan lebih dari satu waktu sholat !
Pada setiap tahiyyat kita berkata : “Assalaa-mu ‘alaynaa wa ‘alaa ‘ibaadil- ahis holiihiin” Ya Alloh damai atas kami, demikian juga atas hamba-hambamu yang sholeh …. Nah andai setelah salam kita cemberut lagi, setelah salam kita tatap isteri kita dengan amarah. Maka kita telah mendustaiNya, padahal nyawamu ditanganNya …… OK, marahlah sepuasnya kala senja, tapi habis maghrib harus terbukti lho itu janji dengan Ilahi ….. Marahlah habis shubuh, tapi jangan lewat waktu dzuhur, Atau Maghrib sebatas isya … Atau habis isya sebatas …. ??? Nnnng .. Ah kayaknya kita harus sepakat kalau habis isya sebaiknya memang sudah tidak ada lagi pertengkararan kan …..?

6. Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema’afkan
Selama ada cinta, bertengkar hanyalah “proses belajar untuk mencintai lebih intens” Ternyata ada yang masih setia dengan kita walau telah kita maki maki. Sekali lagi Kalau kita saling mencinta, kita harus saling mema’afkan Gitu saja ko repot..?!, semoga bermanfa’at, “Dengan ucapan syahadat itu berarti kita menyatakan diri untuk bersedia dibatasi.” “Dengan berikrarnya kita di depan bapak penghulu tanpa disadari kita telah berikrar untuk ber jihad.”

Iklan

“MAAFKANLAH IBUMU, ANAKKU”

“MAAFKANLAH IBUMU, ANAKKU”

Saat pulas tidurmu dia cium lembut pipi mungilmu dan dia usap rambutmu
sungguh anakku, ibumu mencintaimu

Maafkan ibumu, anakku ketika tadi siang
engkau dibentak karena adik baru tidur dalam pelukannya
sedangkan badan ibumu penat bukan main lantas engkau menjauh
sambil tetap memandang ibumu

Maafkan ibu, anakku ketika jari ibumu
meninggalkan bekas merah di pahamu
hanya karena engkau makan sembari bermain-main
lalu nasimu tumpah ke lantai tapi engkau tak menangis,
hanya mata beningmu menatap dengan rasa takut

Maafkan ibu, anakku yang menolak bercerita saat engkau ingin mendengar kisah
yang bisa membuatmu tertawa gembira atau menitikkan air mata,
hanya karena ibumu sedang lelah….
atau ibumu sedang sibuk dengan pekerjaan lainnya

Maafkan ibumu, anakku yang tidak lebih awal menjumpaimu untuk sekedar
duduk dan bermain bersama hanya karena ibumu ingin
melakukan sesuatu untuk diri ibu…
anakku,
betapa ibumu merasa bersalah
begitu ibumu tahu engkau sangat dan sangat rindu duduk dipangkuannya

Maafkan ibumu, anakku yang marah kepadamu
hanya karena kesalahan yang sebenarnya bukan kesalahanmu…
ibumu marah hanya karena ibumu letih mengerjakan pekerjaan seorang ibu

Maafkan ibumu, anakku
terkadang ibumu ingin bisa membagi tubuhnya agar segala keinginanmu terpenuhi…
sedang sebagian tubuhnya yang lain mengerjakan tugas dan pekerjaan yang lain lagi..

Maafkan ibumu, anak anakku
yang tidak mampu memberikan seluruh waktunnya untukmu…

andai engkau tahu sayangnya…
betapa ibumu sangat mencintaimu,
betapa ibumu terkadang bisa begitu ketakutan akan kehilanganmu,
betapa ibumu bisa tertawa hanya karena tingkahmu,
betapa ibumu bisa menangis tatkala melihatmu kecewa,
betapa ibumu khawatir ketika engkau sakit..

Anakku,
sungguh ibumu tak mengharap apa-apa
tatkala ibumu berjuang menghadirkanmu ke dunia,
melihat engkau sehat… itu saja telah mampu
menghilangkan seluruh deritanya

Sering ibumu bertanya,
marahkah engkau pada ibu yang telah
marah kepadamu..
gelengan kepalamu membuat ibu lega,
walau tetap tak akan mampu menghapus rasa sesal dihatinya

Sungguh anakku,
cinta ibumu padamu hanya Tuhan yang tahu…
tak pernah seseorang bisa mengukur dalamnya
cinta seorang ibu pada anaknya,
sampai engkau kelak menjadi seorang ibu ataupun ayah.

Maafkan ibumu, anakku…
yang tak mampu menjadi ibu sebagaimana
seharusnya seorang ibu yang sempurna

Anakku…
ridha ibumu adalah milikmu
agar kelak engkau mudah memasuki surga-Nya
(hanya itu mungkin, yang mampu ibumu berikan untukmu, duhai permata hatiku……)

UNTUK ANAK PEREMPUANKU

UNTUK ANAK PEREMPUANKU

Semoga Allah menjadikanmu manusia yang halus perasaannya sedemikian halus, hingga dapat kaurasakan derita orang-orang yang terlunta di lorong-lorong peradaban dan dapat kau jelang mereka dengan penuh kasih sayang karena mereka adalah bagian dari dirimu juga, perempuan.

Semoga Allah menjadikanmu manusia yang tajam pemikirannya sedemikian tajam, hingga dapat kau pecahkan buih-buih kebencian yang meracuni pengetahuan dan jernihlah muara sejernih hulunya karena abadinya nilai-nilai kesempurnaan tak dapat digantungkan kepada apa pun lagi selain kepada bening cintamu, perempuan.

Semoga Allah menjadikanmu manusia yang kuat sendirian sedemikian kuat, hingga ketika kau telah mampu hidup tanpa bergantung kau pun mampu memilih untuk seutuhnya tergantung kepada siapa pun yang dihadirkanNYA untukmu karena kau sadar bahwa kau memang tercipta untuk dinikahi, perempuan.

Semoga Allah menjadikanmu manusia yang tinggi martabatnya sedemikian tinggi, hingga dapat kau rendahkan hatimu serendah-rendahnya dan tangguhlah azab bagi mereka yang belum ridho mengesakanNYA sungguh esalah sucimu hanya dengan DIA sebagai saksi karena kenyataanmu memanglah tersembunyi, perempuan.

Semoga Allah menjadikanmu manusia yang dapat menahan pandangan sedemikian tahan, hingga ingatanmu kepadaNYA mampu menghanguskan setiap nafsu yang menyerang dari dalam dan luar dirimu dan menjadi cahaya lah wajahmu bagi pencari kebenaran serta hanya cadar hitam lah rupamu bagi pencari pembenaran karena hanya DIA lah yang kau jumpa dan hanya wajah NYA yang kau damba setiap kau temukan dirimu dalam cinta
dan……….
DIA lah hijab dihadapan siapa pun kau berada.